DAUD DAN KEHIDUPANNYA (SINOPSIS BUKU "FACING YOUR GIANTS")

Siapa
yang tidak kenal dengan Daud?
Daud
si cungkring yang dipercaya Allah merobohkan Si manusia raksasa Goliat. Sampai -sampai
karena kecungkringan Daud, Goliat berkata “Anjingkah aku, maka engkau datangi
aku dengan tongkat?”
Goliat
tidak tahu kalua-kalau Allah-lah yang berkuasa atas keberanian Daud.
Daud
dengan percaya diri mengambil lima batu licin sebagai anak umbannya,
dipakainyalah itu untuk merobohkan Si manusia raksasa itu (Goliat), hingga
jatuh ke tanah dan mati.
Daud
memang anak yang sangat tunduk kepada Allah di zaman itu.
.
Apakah
Daud tetap tunduk kepada Allah?
Jelas
dikatakan, tidak!!
Tempat
yang terlalu tinggilah (kekuasaan) akhirnya, yang membuat ia berpaling dari
Tuhan.
Dia
menggantikan Saul untuk berkuasa atas Israel pada masa itu.
Dia
mempunyai banyak prajurit perang dan tinggal di Istana kerajaan yang begitu
mewah, segala sesuatunya ada di sana.
Istanalah
awal mula kejatuhan Daud.
Mungkin
cerita Daud yang paling berkesan yang juga banyak disorot adalah, ketika Daud
melihat istri Uria yaitu Batsyeba mandi tanpa sehelai kain pun. Kita tidak tahu
Daud di posisi mana saat itu, hingga akhirnya dia bisa melihat wanita Uria itu
mandi tanpa kain.
Pikiran
semakin liar untuk memiliki Batsyeba itulah, akhirnya puncak keiblisan Daud sangat
terlihat. Karena sebelumnyapun Daud sudah “berontak” kepada Allah.
Dia
berusaha keras untuk membuat Uria suami Batsyeba meninggal, sehingga dengan
begitu sepenuhnya Batsyeba akan jatuh ke dalam genggaman dia.
Uria
adalah seorang prajurit yang sangat patuh terhadap Rajanya ‘Daud’, dan pada
kesempatan itulah Daud memberdayakan kepatuhan seorang Uria dengan menyuruh dia
berperang melawan lawannya dengan posisi dia di depan (dengan maksud Uria akan
segera mati).
Ya
rencana Daud berjalan mulus, Uria mati dan Batsyeba dipinang dia menjadi
istrinya.
Daud
tidak peduli dia sudah merencanakan kematian seseorang untuk niat jahat dia.
Yang pasti dia sangat bahagia dengan kematian Uria.
Akhirnya
Daud dan perempuan yang dilihatnya mandi tanpa kain itu pun, sah menjadi
seorang suami-istri.
Pertanyaan
yang mungkin muncul di benak kita adalah; “mengapa Daud bisa setega itu?”
Jawabannya
mudah saja. Penyakit ketinggian.
Daud
terlalu lama di ketinggian hingga sangat susah mendengarkan suara hatinya
bahkan suara Tuhan.
Ilustranya
begini. Coba anda bayangkan ketika anda terlalu lama berada di ketinggian,
berada dalam pesawat misalnya; bukankah membuat pendengaran anda berkurang dan
penglihatan anda menjadi kabur atau tidak kelihatan jelas? Itulah yang dialami
oleh Si Cungkring Daud.
Kekuasaanlah
akhirnya menundukkan keteguhan iman seorang Daud.
Cerita
Daud dan Batsyeba tidak sekadar cerita tentang hawa nafsu, tetapi lebih
merupakan cerita tentang kekuasaan. Kisah tentang seseorang yang terangkat
terlalu tinggi dibandingkan dengan yang dapat ditanggungnya.
Cerita
tentang seseorang yang perlu mendengarkan kata-kata ini: “Turunlah, sebelum
engkau jatuh.”
“Mula-mula
timbul kecongkakan, selanjutnya terjadilah kehancuran—semakin besar ego
seseorang, jatuhnya semakin keras.”
Apakah
cerita Daud sampai disitu?
Tidak!
Itulah
awal kemalangan seorang Daud.
Absalom
anaknya merebut paksa takhta kekuasaannya. Bahkan Daud terusir dari Istananya. Sungguh
miris nasib Daud. Siapa yang tidak menangis menghadapi situasi semacam ini?
Tidak lagi berkuasa. Tidak lagi ada tempat untuk berteduh.
Bahkan
ketika pun orang menanyakan kabar tentang anak-anaknya yang hanya sekedar ingin
tahu. Dia hanya bisa mengernyitkan dahinya. Dia menganggap asing dengan
keluarganya.(???)
Bahkan
yang paling menyayat hati Daud, ketika salah Seorang putra Daud, yakni Amnon,
tergoda pada adik tirinya Tamar. Amnon bahkan menyetubuhi adik tirinya tersebut.
Hati
Daud sangatlah marah mengetahui hal itu, tetapi dia tidak bisa melakukan
apa-apa terhadap Amnon, bahkan dia juga tidak berbuat apa-apa kepada Tamar
putrinya itu yang notabene memerlukan perangkulan dan perlindungan.
Anak
gadis mana yang tidak ingin dirangku loleh “cinta pertamanya” ketika mendapatkan
perlakuan yang bejat, bahkan dari saudara dekatnya???
Alangkah
malangnya nasib Daud, Seorang anak perempuan diperkosa. Seorang anak laki-laki
mati. Seorang anak laki-laki lainnya memiliki tangan yang berlumuran darah.
Istana bergejolak.
Apakah
Daud turun tangan??
Tidak,
dia hanya bisa meratapi kemalangannya.
Dia
bukan seperti dulu yang aktif menananyakan Tuhan.
Dia
hanya tipe ayah Homer Simpsons dalam
Alkitab. Ia adalah gambaran kepasifan.
Saya
membaca, Daud memiliki enam istri. Selain itu masih ada Mikhal, istri
pertamanya, dan Batsyeba, istrinya yang paling terkenal itu. Belum lagi yang
lain-lain para gundik-gundiknya, Daud menjadi ayah dari anak-anak lain melaui
ibu-ibu lain, yang jumlahnya tidak kita ketahui secara pasti.
Jadi,
Daud mempunyai delapan istri yang tercatat secara pasti—terlalu banyak untuk
dapat menggilir sehari seorang dalam sepekan. Hmmm……
Daud
kita ketahui sangat berhasil dalam segala hal dalam hidupnya. Daud mampu
mengurusi begitu banyak hal yang sangat baik. Ia berhasil menyatukan 12 suku
menjadi satu bangsa. Ia merupakan Arsitek keberhasilan penakluk militer. Bahkan
ia berhasil mendirikan ibu kota dan menjadikan Allah sebagai Tuhan seluruh
bangsa, Membawa pulang tabut Allah ke Yerusalen dan membuka jalan bagi
pembangunan Bait Allah. Ia mengubah puisi yang masih kita baca dan mazmur yang
masih kita nyanyikan hingga kini.
Namun
ketika menyangkut masalah keluarga, Daud
terbukti gagal.
Untung
sahabat setianya Natan dipakai Tuhan untuk menegur dia sampai ia bertobat
sebelum menutup matanya.
Hingga
akhirnya kemalanganpun berlanjut, Daud menutup mata didampingi orang asing,
sebab dia menjadikan dirinya orang asing bagi keluarganya.
Pesan
yang ingin Tuhan sampaikan adalah.
Tuhan
ingin melihat kita sebagai seorang Daud Sang gembala bukan seorang Daud yang
tinggal di ketinggian hingga untuk mendengarpun sangat susah dan melihatpun
begitu kabur.
Tapi
itulah kebesaran Tuhan, dia ingin melihat seberapa taatnya kita kepadaNya.
Sering
sekali memang ketika Tuhan sudah percayakan suatu posisi yang strategis dalam
bidang apapun, kita seolah berpikir itu hanya karena hebat kita, hingga mampu
berpaling dari Tuhan.
Tuhan
juga ingin menyampaikan.
Belum
terlambat bagi kita pembaca untuk menjadikan istri bagi yang sudah punya istri
menjadikan mereka menjadi objek kesetiaan tertinggi. Menjadikan suami bagi yang
sudah punya suami sebagai penerima gairah terdalam dalam hubungan suami-istri.
Kasihilah dia yang mengenakan cincin Anda. Hargailah anak-anak yang menjadi
penerus nama keluarga Anda.
Sukses terbesar adalah sukses membina
keluarga.
Tetaplah
berjuang!!!
Komentar
Posting Komentar