MENYONGSONG REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Oleh: Ricky Bakara
Revolusi industri ke-4 atau yang sering kita kenal dengan
istilah popular dengan sebutan revolusi industry 4.0 datang seiring
perkembangan teknologi yang semakin pesat termasuk robotik dan kecerdasan
buatan. Pergeseran industri telah terjadi di berbagai negara dan menjadi
keniscayaan termasuk Indonesia.
Tidak
bisa dipungkiri Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah
dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga
manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Berikutnya pada revolusi
industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik,
penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang dan
lain-lain.
Kemudian
revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital
dan internet. Selanjutnya pada revolusi generasi keempat inilah muncul pola
baru yaitu disruptif teknologi . hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan
perusahan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industry
keempat ini telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan
raksasa., kondisi inilah yang biasa disebut-sebut dengan istilah Revolusi
Industri 4.0.
Usut punya usut Sebenarnya Istilah "Industrie 4.0" berasal
dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah
Jerman yang
mengutamakan komputerisasi pabrik.
Istilah "Industrie 4.0" diangkat
kembali di Hannover Fair tahun 2011. Pada Oktober 2012, Working
Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada
pemerintah federal Jerman. Anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai
bapak pendiri dan perintis Industri 4.0.
Di Indonesia setidaknya sejak tahun 2011 sebenarnya, Pemerintah
sudah memulai revolusi industri 4.0 dan mau tidak mau, siap tidak siap kita
akan menghadapi industry berbasis tekhnologi ini. Bahkan pada pertemuan tahunan
Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) pada Januari di Davos, Swiss,
Revolusi Industri Keempat menjadi focus utama pembahasan dan perdebatan.
Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang membedakan Revolusi Industri 4.0 dengan
revolusi industry sebelumnya.
Tiga hal tersebutlah menjadi dasar mengapa transformasi yang
terjadi saat ini bukan merupakan perpanjangan atau kelanjutan dari revolusi
digital, melainkan menjadi revolusi transformasi baru (tersendiri), dengan
alasan: Pertama, inovasi dapat dikembangkan dan menyebar jauh lebih cepat
dibandingkan sebelumnya. Dengan kecepatan ini terjadi terobosan baru pada era
sekarang, pada skala eksponensial, bukan pada skala linear;
Kedua, penurunan biaya produksi yang marginal dan munculnya
platform yang dapat menyatukan dan mengonsentrasikan beberapa bidang keilmuan
yang terbukti meningkatkan output pekerjaan. Transformasi dapat menyebabkan
perubahan pada seluruh system produksi, manajemen, dan data kelola sebuah
Lembaga;
Dan, ketiga, revolusi secara global ini akan berpengaruh
besar dan terbentuk di hampir semua Negara di dunia tidak terkecuali Indonesia,
dimana cakupan transformasi terjadi disetiap bidang industry dan dapat
berdampak secara menyeluruh dibanyak masyarakat di seluruh Negara,.
Seiring dengan itu, para ahli pun berpendapat bahwa Revolusi
Industri 4.0 dapat menaikkan rata-rata pendapatan per kapita dunia, memperbaiki
kualitas hidup, dan bahkan memperpanjang usia manusia (meningkatnya usia
harapan hidup).
Di sisi lain, penetrasi alat-alat elektronik, seperti telepon
genggam (handphone) yang harganya semakin murah dan sudah sampai ke berbagai
pelosok dunia, baik yang penduduknya mempunyai pendapatan tinggi maupun rendah.
Pada masa ini teknologi begitu menyentuh ranah pribadi,
pengatur kesehatan, pola diet, olahraga, mengelola investasi, mengatur keuangan
melalui mobile banking, memesan taksi, memanggil Go-Jek, pesan makanan di
restoran (go-food), beli tiket pesawat, mengatur pejalanan, main game, menonton
film terbaru, dan lain sebagainya. Semua itu kini bias dilakukan dengan hanya
melalui satu perangkat teknologi saja, karena datanya sudah disimpan di
“langit”.
Dengan realistis yang seperti itu, kita dapat membayangkan
bahwa dalam bidang bisnis dan produksi, Revolusi Industri 4.0 akan meningkatkan
efisiensi, terutama dalam bidang supply, logostik, dan komunikasi, dimana biaya
keduanya akan terus menurun.
Syukurnya, saat ini Pemerintah Indonesia sudah mulai
mengarahkan untuk kompetensi peningkatan keahlin tenaga kerja melalui program
pendidikan vokasi link and match.
Artinya, Pendidikan dirancang sedemikian rupa untuk
meningkatkan relevansi sekolah dn kejuruan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,
dunia usaha, dan dunia industri.
Bagi perusahaan yang bekerja sama dengan perguruan tinggi
dalam Pendidikan vokasi, pemerintah sedang menyiapkan insentif berupa
superdeductible tax (yang diakui oleh kantor pajak untuk mengurangi penghasilan
bruto).
Menghadapi
revolusi industri 4.0 tentu bukan hal mudah. Dan berbicara mengenai Indutri 4.0
bukan hanya sekedar jargon siap tidak siap. Ada beberapa hal yang perlu
dipersiapkan, misalnya saja merubah metode pembelajaran dalam dunia pendidikan
yang ada saat ini. Yang paling fundamental adalah mengubah sifat dan pola pikir
anak-anak zaman sekarang. Menurut versi kemenristekdikti dalam menghadapi
revolusi industry 4.0 ini adalah dengan membangun sistem pembelajaran yang
lebih inovatif, rekonstruksi kebijakan kelembagaan, peningkatan kualitas dosen
dan terobosan hasil riset. Disamping itu Indonesia masih memerlukan
transformasi infrastruktur IT, penegakan kedaulatan data dan undang-undang
perlindungan data pribadi.
Maka
dari itu di era ini harus ada kolaborasi lintas sektor, yang semuanya mesti
terlibat diantaranya yaitu melibatkan pihak pemerintah, akademisi dan pelaku
industri. Agar dampak revolusi industry 4.0 ini benar-benar memberikan manfaat
untuk semua lapisan masyarakat.

Komentar
Posting Komentar